Fahd Djibran; Ngeblog itu Menuntaskan Hasrat Narsismemu

Konon, menulis merupakan petanda orang yang mencoba beradab. Pasalnya, peradaban terlahir dari ketulusan hati dalam menuangkan gagasanya melelui tarian pena. Tanpa itu semua niscaya kebudayaan akan tetap bertahan hingga di kenang orang.

Lemahnya, kebiasaan angkat pena dikalangan pelajar dan aktivis pergerakan membuktikan keberadaan kaum intelek sudah tak lagi akrab pada budaya tulisan, melainkan lisan.

Apa pun medianya; ngeblog, berkarya lewat menulis di harian umum, buku sekaligus mendirikan penerbitan adalah bagian penting dari upaya membangun peradaban beradab.

Mencoba mengikuti orang-orang besar sekaligus beradab dengan membudayakan menulis, maka IBN GHIFARIE dari Ayongeblog, berhasil mewawancarai FAHD DJIBRAN, penulis esai terbaik versi UNICEF Young Writer Award; DAR!Mizan Unlimited Creativity Award sebagai penulis terbaik (2006)Nominator Ahmad Wahib Award (2008); Nominator Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa untuk bidang kreatif (2009); dan Pemimpin Redaksi di Juxtapose Korporasidea, sebuah perusahaan penerbitan terkemuka di Yogyakarta via surat elektronik. Baginya, ngeblog dapat menuntaskan hasrat narsismemu. Inilah petikannya:

Bisa diceritakan awal perkenalan Anda dengan media online ini?

Perkenalan saya dengan blog dimulai pada tahun 2002. Saat blog mulai menjadi trend di Indonesia. Pada saat itu saya sudah memiliki akun blog yang diisi dengan tulisan-tulisan pendek yang menceritakan kehidupan sehari-hari (pertama kali, saya memperlakukan blog sebagai diary online).

Sampai sekarang saya sudah pernah punya beberapa blog, namun yang terakhir dan paling aktif di http://www.ruangtengah.co.nr yang berbasis blogspot dan di re-direct melalui http://freedomain.co.nr (sebenarnya saya juga punya akun di multiply, tapi hanya dengan format otomatisasi impor dari akun di blogspot).

Sejak tahun 2004 saya tidak lagi memperlakukan blog sebagai diary online melainkan sebagai “etalase” atau “galeri” karya-karya pribadi saya—terutama tulisan.

Kenapa memilih blog sebagai tempat mencurahkan segala ide?

Sebenarnya blog hanya salah satu medium aja. Itu tadi, saya memperlakukannya sebagai “etalase” atau “galeri”. Bagi saya, kalau pelukis punya galeri atau fotografer punya studio untuk memamerkan karya-karyanya, penulis harus punya juga donk. Tapi di mana penulis selalu bisa memamerkan karya-karyanya?

Mungkin di media massa, buku, atau lainnya. Tapi bukankah nggak semua karya (tulis) bisa dimuat di media masaa kayak koran atau buku? Terutama karya-karya “idealis” yang barangkali nggak match sama kehendak media massa atau penerbit (mungkin terlalu pendek, terlalu panjang, atau apapun).

Nah, di sini blog menjadi medium yang paling cocok untuk menyimpannya agar tetap bisa diapresiasi sebanyak mungkin orang. Lagi pula, di blog kita bebas menuntaskan hasrat idealism kita tanpa batasan-batasan apapun dari pihak manapun (selama tidak mengganggu dan meresahkan orang lain, tentu saja). Dan juga, blog akan menemukan pembacanya sendiri. Itu yang penting. :)

Manfaat apa saja yang dirasakan Anda atas kehadiran catatan harian online ini?

Sekarang sih saya nggak memperlakukan blog sebagai diary online lagi. Semua tulisan-tulisan saya di blog udah “direncanakan” dan “dikemas” dengan tujuan tertentu. Jadi manfaatnya ya sesuai dengan apa yang saya desain dan rencanakan itu, misalnya sekarang saya lagi bikin project  I Care I Share: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa (nanti saya ceritakan di pertanyaan berikutnya).

Manfaatnya secara umum sih saya jadi punya pembaca-pembaca baru setiap hari (1), jadi punya lingkaran pembaca yang lebih luas (2), jadi media komunikasi yang efektif dengan pembaca-pembaca saya sehingga saya bisa menemukan tema atau gagasan-gagasan karya saya berikutnya (3), dan banyak lagi.

Membaca blog anda terdapat project “Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa: I care, I Share” apa yang diusung project itu?

Project itu sebenarnya follow up dari buku saya yang terbit di Gagas Media akhir 2008 lalu, A Cat In My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa.

Project itu mengajak semua orang (terutama anak-anak muda) untuk bertanya apa saja. Pertanyaan yang dating dari pembaca blog akan dibahas setiap minggu menjadi sebuah topic diskusi yang akan didiskusikan baik di boks komentar di blog maupun di Facebook.

Sejauh ini respopnnya baik, pertanyaan yang masuk ke e-mail saya sudah hamper 100 pertanyaan. Saya memilih pertanyaan-pertanyaan yang paling marik setiap minggunya, saat ini sudah minggu ke-17 dana kan memasuki minggu ke-18.

Project itu berjalan sejak 25 Maret 2009 dan direncanakan sampai 25 September 2009 (20 pertanyaan). Pada perkembangannya project itu mendapat sambutan yang sangat baik, di Facebook sudah ada 1.800-an pengikut dan di blog ada 150-an.

Rencananya setelah pertanyaan ke-20, tema project-nya akan diganti dan project I Care I Share: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa akan ditransformasikan kedalam bentuk buku, semacam album pertanyaan.

Saat ini sudah ada empat penerbit yang berminat menerbitkannya, tiga di antaranya penerbit nasional. Ini juga manfaat lain dari blog buat para creative writers. :)

Kenapa dalam menjawab setiap pertanyaan selalu bersandar pada Iwan Fals?

Sebenarnya bukan bersandar, saya hanya menggunakan lirik-lirik lagu Iwan Fals sebagai medium penyampaian pesan. Semacam instrumentasi. Dalam dunia penulisan kreatif ada empat elemen penting, content, context, coherence, dan color.

Nah, saya menggunakan lagu-lagu Iwan Fals sebagai color dalam tulisan-tulisan saya (saya juga menggunakan metode narasi surat) agar pembacanya tidak merasa bosa dan tulisannya cair dan tidak terkesan menggurui (soalnya tulisan-tulisan di blog itu kan jawaban dari sejumlah pertanyaan).

Jadi itu persoalan teknik penyampaian gagasan melalui tulisan. Barangkali seperti gaya Covey dengan menyisipkan cerita-cerita atau seperti Salman Rushdie dengan teknik menyisipkan bahasa-bahasa symbol.

Di samping itu, sejak kecil saya adalah penggemar lagu-lagu Iwan Fals. Saya menghapal banyak sekali lagu Iwan Fals, mungkin hampir seluruhnya. Saya belajar menulis pertama kali dengan menulis ulang lirik-lirik lagu Iwan Fals.

Bagi saya, lirik-lirik lagu Iwan Fals memiliki kekuatan dahsyat, baik metafor dan ungkapan-ungkapan yang  ada di sana maupun mutan-muatan makna yang dikandungnya.

Nah, disamping menjadikannya medium penyampai pesan, saya juga ingin banyak orang membaca lirik-lirik lagu Iwan Fals yang dahsyat dan sarat makna.  Barangkali dengan dengan cara itu jadi semacam ucapan terima kasih untuk “guru” saya itu. :)

Anda bersama temen-temen mendirikan Juxtapose Korporasidea dengan tiga lini Penerbit Juxtapose, Penerbit Eduka, dan Penerbit MMP. Apa yang menjadi khasan dari Juxtapose Korporasidea?

Juxtapose Korporasidea adalah perusahaan yang dibangun dengan cita-cita menyejajarkan (juxtaposing) prinsip-prinsip bisnis konvensional (corporation) dengan kemewahan gagasan dan ilmu pengetahuan (idea).

Artinya sejak awal perusahaan ini memosisikan dirinya sebagai ‘rumah kreativitas’ bagi para pecinta dunia ide dan ilmu pengetahuan untuk menghadirkan produk-produk ‘pikiran’ mereka di ruang publik dan layak dipasarkan (from mind to market).

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006 oleh beberapa mahasiswa dan seorang senior mereka. Pada awalnya mereka bertujuan membangun aras baru karya-karya intelektual di Indonesia agar bisa membuka dan mengembangkan wawasan masyarakat pembaca

Indonesia secara luar.Dimulai hanya menerbitkan buku-buku terjemahan penulis terkemuka dari luar negeri, secara bertahap karakter Juxtapose Korporasidea menemukan bentuknya melalui karya-karya intelektual yang mewakili berbagai sudut pandang, secara serius dan modern.

Pada awalnya Juxtapose Korporasidea hanya memiliki satu imprint, yakni Juxtapose. Namun dalam perkembangannya, seiring dengan prinsip modern bussines dan creative paradigm yang dipegang teguh para generator gagasan dalam perusahaan ini, untuk menjawab kebutuhan perkembangan bisnis yang berkembang pesat, Juxtapose Korporasidea membentuk Kelompok Penerbit Juxtapose Korporasidea sebagai perusahaan induk (holding company) dan meluncurkan tiga imprint pada akhir tahun 2008, yakni Penerbit Juxtapose, Penerbit Eduka, dan Penerbit MMP. Tahun 2009 ada lini baru yaitu Saroba.

Sejak saat itu, Juxtapose Korporasidea terbagi dalam unit-unit yang otonom dan dinamis sehingga dapat beradaptasi terhadap cepatnya perubahan lingkungan bisnis perbukuan Indonesia.

Sudah seberapa banyak karya penerbitan Juxtapose Korporasidea ini?

Sekarang sudah lebih dari 100 judul sejak tahun 2006. Dari hanya menerbitkan satu buku sebulan di tahun pertamanya, Kelompok Penerbit Juxtapose Korporasidea kini telah mampu memproduksi lebih dari 10 judul buku per bulan atau mencapai 200 judul buku per tahunnya.

Sebagai perusahaan baru di bidang industri kreatif, khususnya percetakan dan penerbitan, Juxtapose Korporasidea telah menunjukkan kualitasnya dengan menerbitkan buku-buku terbaik dari penulis-penulis terbaik di Indonesia. Bahkan, pada bulan April 2009, Juxtapose Korporasidea meluncurkan program Hibah Penerbitan Naskah Kreatif senilai 200 juta rupiah yang disambut positif oleh berbagai kalangan penulis di tanah air. Program ini rencananya akan diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya.

Melihat pasar buku Indonesia yang terus berkembang—kini pasar buku Indonesia diperkirakan bernilai 7 – 10 T per tahunnya—dan peningkatan daya baca masyarakat Indonesia, Juxtapose Korporasidea berkomitmen untuk menjadi perusahaan penerbitan dan percetakan terkemuka di Indonesia yang menyajikan buku-buku bermutu dan berkualitas kelas satu.

Dalam upayanya menuju ke arah itu, Juxtapose Korporasidea melalui berbagai jaringan kreatif berbasis komunitas yang terus dijaga dan diperluas, terus-menerus melakukan yang terbaik untuk dunia pengetahuan dan kreativitas Indonesia.

Bisa diceritakan soal ide awal tentang hunting penulis-penulis muda kretif dan Hibah Penerbitan Naskah Kreatif senilai 200 juta?

Sebetulnya banyak penulis yang punya naskah yang siap diterbitkan, tapi kebanyakan dari mereka nggak sadar kelak naskah itu mau diapakan, dijual seperti apa, siapa pembacanya, bagaimana desainnya, dan seterusnya.

Banyak penulis yang mengira bahwa pekerjaannya selesai ketika naskahnya selesai ditulis dan selesai dicetak. Mereka lupa naskahnya harus sampai dengan baik ke tangan pembacanya. Di sini butuh banyak kerja dan strategi kreatif, mulai dari market mapping,  desain, strategi promosi dan lainnya yang juga harus disadarai para penulis (nggak bisa begitu saja mengandalkan penerbit dan distributor).

Nah, Juxtapose Korporasidea melalui hibah itu ingin menemukan penulis-penulis yang memiliki daya kreatif lebih besar, yang bisa menemukan pasar dan pembacanya melalui apa yang ia lakukan dengan naskahnya. Sebab buku adalah sebuah karya seni, ia terkait dengan banyak faktor.

Dan seharusnya penulis juga mendi seniman yang kreatif menegosiasikan banyak faktor itu agar karyanya diterima masyarakat pembaca.  Itu dari sisi penulis, kita ingin melakukan kerja penyadaran bahwa menjadi penulis bukan sekadar bikin tulisan—lalu sudah! Kita ingin mengajak para penulis memasuki era creative writing. Jadi penulis juga dituntut membuat desain karyanya sapai bagaimana karyanya bisa sampai pada para pembacanya.

Dari sisi penerbit sebenernya ini strategi pencarian naskah. Apa bedanya dengan menunggu naskah datang secara biasa? Minimalnya sebuah penerbit punya alokasi dana untuk mencetak sebuah buku pada kisaran 10-20 juta, bisa lebih tergantung oplag dan proses produksinya.

Kita main di oplag 2000-3000 eksamplar dengan proses produksi yang biasanya memakan biaya 20-an juta rupiah. Sebulan kita menerbitkan minimal 4 naskah, artinya 80-an jutaan sebulan untuk biaya produksi. Melalui program hibah itu kita nyari 10 naskah yang akan diterbitkan dalam tiga periode salama Agustus-Februari.

Sama saja bukan? Sama saja seperti mengeluarkan biaya regular untuk produksi. Dari 100-an peserta hibah, kita pilih 10 terbaik yang karya-karyanya akan kita terbitkan senilai masing-masing 20 juta rupiah.

Sudah sejauh mana perkembanga nasib para Pemenang Hibah Penerbitan Naskah Kreatif Juxtapose Korporasidea 2009 itu?

Sekarang sedang proses penerbitan tiga naskah pertama yang akan diterbitkan di periode pertama (Agustus-Oktober). Naskah-naskah lainnya masih dalam proses penyelesaian oleh masing-masing penulisnya.

Sambil didampingi oleh editor dari Juxtapose, semua penulis sudah menjalin komunikasi dengan masing-masing editornya. Sesuai dengan periode yang ditetapkan, masing-masing pemenang juga akan memasuki tahap perjanjian kontrak penerbitan dengan pihak Juxtapose Korporasidea.

Bagaimana dengan proyek WRITHINK IS AMAZING!?

WRITHINK IS AMAZING adalah program pelatihan menulis kreatif yang diselenggarakan oleh Juxtapose Korporasidea. Program ini mengajak para pesertanya untuk melakukan creative writhink.

Program ini direncanakan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali, pesertanya dibatasi hanya 20 orang. Yang bebeda dari program pelatihan atau workshop menulis lainnya adalah, di akhir program karya seluruh peserta akan diterbitkan dalam bentuk antologi oleh Juxtapose Korporasidea.

Sekarang baru “gerombolan pertama”, saat ini sedang proses penerbitan buku antologi alumni gerombolan pertama. Temanya tentang Ibu. Dalam rangka menyambut hari Ibu 22 Desember nanti.

Dalam program ini peserta juga diajarkan konsep creative publishing, menerbitkan buku sebanyak ratusan eksamplar dengan modal hanya 20 ribu rupiah saja! Mau tahu caranya? Ayo ikutan WRITHINK IS AMAZING Gerombolan Kedua. :)

Sampai hari ini adakah semacam alumni buat “Gerombolan” pertama itu?

Ya, mereka menerbitkan karyanya secara bersama. Ada group di facebook, milis, dan sedang berencana biki blog bareng.

Ngeblog, berkarya di harian, menerbitkan buku dan mendirikan penerbitan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi menulis. Adakah kiat-kiat untuk tetap semangat menulis?

Seandainya kakek saya, semasa hidupnya menulis sesuatu, mungkin sekarang saya mengenal siapa dia. Tetapi itu tak pernah terjadi. Tak selembarpun tulisan yang diwariskan kakek pada saya.

Saya tak pernah tahu isi kepala kakek, selain bahwa dia adalah seorang lelaki tua leluhur saya. Maka jangan salahkan saya, jika saya lebih mengenal Karl Marx, Gabriel Garcia Marquez atau Pramoedya Ananta Toer, yang bukan siapa-siapa saya, daripada kakek saya sendiri.

Dendam itulah menjadi energi besar yang mendorong saya untuk terus menulis. Saya tak mau dilupakan sejarah. Saya mau jadi orang yang berkesadaran sejarah. Maka saya memutuskan untuk menulis. Agar kelak, jika cucu saya tak sempat tahu apa yang kakeknya pikirkan dan bicarakan semasa hidupnya, ia bisa mengenal kakeknya lewat tulisan-tulisannya. Setidaknya, menulislah untuk menuntaskan dendam itu. Bagi saya, tak perlu kiat dalam menulis. Menulislah dengan cara apa saja yang paling menyenangkan. :)

Pesan apa yang Anda akan sampaikan kepada mereka yang belum menulis dan ngeblog?

Pesan untuk menulis udah di atas tadi. Pesan untuk ngeblog: ngebloglah sebab ngeblog itu menuntaskan hasrat narsismemu secara lebih sehat dan positif. :)

Biodata Singkat

Fahd Djibran dikenal sebagai penulis kreatif kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 22 Agustus 1986. Saat ini sudah menulis lebih dari 15 judul buku dan menjadi kontributor untuk sejumlah majalah dan terbitan kreatif.

Buku terakhirnya berjudul A Cat in My Eyes: Karena Bertanya tak Membuatmu Berdosa (GagasMedia, 2008) dan Qum! (MMP, 2009). Saat ini sedang mempersiapkan penerbitan Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya (GagasMedia, 2009).

Hobinya menulis mengantarkannya menjadi salah satu penulis esai terbaik versi UNICEF dalam UNICEF Young Writer Award dan DAR!Mizan Unlimited Creativity Award sebagai penulis terbaik tahun 2006.

Pada tahun 2008 menjadi nominator Ahmad Wahib Award dan pada tahun 2009 menjadi nominator dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2009 untuk bidang kreatif.

Sejak tahun 2008 Fahd bekerja sebagai Pemimpin Redaksi di Juxtapose Korporasidea, sebuah perusahaan penerbitan terkemuka di Yogyakarta.

Fahd juga merupakan Chief Creative Officer pada perusahaan yang dia dirikan pada awal tahun 2009, Otak Kanan, bergerak di bidang design and creative consultant. Fahd juga sering diundang menjadi pembicara atau narasumber di berbagai seminar baik tingkat nasional maupun internasional, khususnya yang berkaitan dengan bidang kreativitas dan kepemudaan. [Ibn Ghifarie]

9 Responses to “Fahd Djibran; Ngeblog itu Menuntaskan Hasrat Narsismemu”

  1. 28 August 2009 at 10:32 #

    saya baru saja berkunjung ke ruang tengah… wah menarik… seharian waktu saya bisa habis membaca tulisan tulisan ini…. makasih mas ibnu wawancaranya dan mas djibran atas ilmunya

  2. 28 August 2009 at 11:42 #

    Wah, baca postingan di atas menghabiskan waktu kira-kira 10 menitan…hehehe. Tapi sangat memperkaya wawasan saya soal blogging. Thx yach.

  3. 28 August 2009 at 21:26 #

    Tabea… Selamat Baku Dapa. Artikelnya Bagus n Menarik. Saya Suka Itu. Thanks,-

  4. 29 August 2009 at 11:50 #

    [BH]mari kita kampanyekan slogan ini.
    [arista]Sama-sama.
    [iskandaria] Ups.. Makasih. Met membaca aja.
    [Rafans Weblog] Oya…Met berkarya.

  5. 30 August 2009 at 13:41 #

    wooooooooow! ayo ngeblog!

  6. 3 September 2009 at 14:52 #

    [natiqoh restia abadi] Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya!

  7. 17 September 2009 at 10:04 #

    tulisannya bagus , menambah pengetahuan akan blogging.trim y

  8. 10 May 2011 at 15:48 #

    fahd djibran.
    Dia salah satu motivator saya untuk tetap menulis meski saya tak punya dendam. Namun untuk dilupakan sejarah barangkali tidak.

Trackbacks/Pingbacks

  1. BH: Kita Menulis Maka Kita Ada : hanya seorang suporter - 28 August 2009

    [...] tulisan ini di buat ketika “menjerumuskan” pak bambang haryanto kedalam komunitas ayo ngeblog , teman sekaligus guru saya, yang memang telah mengajarkan banyak banget tentang dunia blog dan [...]

Leave a Comment